Category Archives: materi kimia kelas XI Semester 2

Pereaksi Pembatas (Hitungan Kimia)

Standard

Sesuai namanya, pereaksi pembatas adalah zat (pereaksi) yang membatasi jumlah produk yang dihasilkan pada suatu reaksi.  Dikatakan membatasi jumlah produk yang dihasilkan karena zat tersebut telah habis terlebih dahulu selagi zat yang lain masih ada, padahal keberadaannya sangat diperlukan untuk reaksi selanjutnya (menghasilkan produk).   Jadi, pereaksi pembatas adalah pereaksi yang habis terlebih dahulu (pertama kali).

Pereaksi pembatas dapat ditentukan dengan cara membagi jumlah mol setiap pereaksi masing-masing dengan koefisien reaksinya (= kuosien reaksi, Q).  Tentu saja dari reaksi yang sudah setara.  Pereaksi dengan kuosien reaksi terkecil merupakan pereaksi pembatas. Dengan demikian kalau tersedia beberapa zat pereaksi dengan jumlahnya masing-masing, kita dapat meramalkan zat pereaksi apa yang nantinya habis terlebih dahulu atau zat apa yang tersisa.

Untuk perhitungan selanjutnya, jumlah (mol) pereaksi pembatas dipakai sebagai pembanding/ standarnya.  Baik jumlah produk ataupun zat lain yang bereaksi.

Contoh : Sebanyak 6,5 gram logam Zn (Ar Zn = 65) direaksikan dengan 1000 mL larutan HCl 0,16 M.  Tentukan jumlah zat yang tersisa dan volume gas H2 yang dihasilkan (STP).  Reaksi yang terjadi :

Zn (s)  +  2HCl (aq)  –>  ZnCl2 (aq)  +  H2 (g)

Jawab :

Mol Zn = 6,5/65 = 0,1 mol (koefisien reaksi = 1)

Q Zn = 0,1/1 = 0,1

Mol HCl = 1000 x 0,16 = 160 mmol = 0,16 mol (koefisien reaksi = 2)

Q HCl = 0,16/2 = 0,08

Ternyata Q HCl < Q Zn, sehingga HCl merupakan pereaksi pembatas (pereaksi yang habis lebih dulu).

.                   Zn (s)       +       2HCl (aq)  —>       ZnCl2 (aq)  +       H2 (g)

Mula2        0,1                      0,16                          –                              –

Reaksi      -0,08                  -0,16                         +0,08                    +0,08

______________________________________________________ +

Akhir        0,02 mol           0                                0,08 mol              0,08 mol

Zat yang tersisa Zn = 0,02 mol

= (0,02 x 65) gram

= 1,30 gram

Gas H2 yang dihasilkan = 0,08 x 22,4 L

= 1,72 L

Baik, demikian sedikit pembahasan tentang pereaksi pembatas. Semoga bermanfaat.

Link ke salah satu artikel sejenis.

Membuat Rumus Lewis

Standard

Memuat/menuliskan rumus Lewis adalah gampang-gampang susah.  Gampang kalau udah tau caranya, tetapi terkadang susah kalau pas ketemu dengan senyawa yang agak kompleks rumusnya.  Asal tahu jumlah elektron dari masing-masing unsur.  Pada dasarnya adalah dengan kira-kira (coba-coba).  Untuk senyawa-senyawa sederhana ini cukup mudah.

Untuk senyawa-senyawa yang agak kompleks, atau yang mengandung ikatan rangkap, atau ikatan koordinat konjugasi atau bahkan ion terkadang menjadi hal yang cukup membuat pusing.  Berikut ada satu cara yang dapat dipakai :
– Hitung jumlah semua elektron yang dimiliki semua atom dalam senyawa
– Tulis kerangka dasar senyawa yang kira-kira masuk akal (atom pusat biasanya yang kekurangan elektronnya paling banyak)
– Berikan masing-masing sepasang elektron untuk setiap ikatan
– Sisa elektron dibagikan kepada semua atom pinggir agar mencapai oktet
– Bila elektron masih tersisa maka diberikan kepada atom pusat
– Tarik satu atau lebih pasangan elektron untuk membuat ikatan rangkap, sehingga atom pusat juga mencapai oktet.

Contoh :  SO3  (atom S punya 6 e valensi, atom O juga punya 6 e valensi)

– Jumlah total elektron (6+3×6) = 24 elektron
– Kerangka dasar molekul : atom S di tengah dikelilingi 3 atom O
– Berikan 3 pasang (6 elektron) untuk 3 ikatan S-O  ————————elektron tersisa 18
– Berikan masing-masing 3 pasang elektron kepada 3 atom O sehingga mencapai oktet —- tak ada elektron tersisa
– Atom S belum oktet, maka tarik sepasang elektron bebas dari O ke atom S membentuk ikatan rangkap
– Selesai, semua atom sudah oktet.  Dua ikatan tunggal, satu ikatan rangkap.

Demikian, semoga berguna.  Ba bay…

Asam Kuat vs Asam Lemah

Standard

ImageAsam kuat- asam lemah, basa kuat-basa lemah, gimana cara membedakannya? Itulah pertanyaan yang selalu terlontar dari banyak siswa. Haruskah  dihafalkan? Boleh aja, tapi lama-lama akan hafal sendiri.  Tapi itu kalau sering belajar lho..!  Ha ha ha..

Sebagai pedoman sederhana adalah sebagai berikut.  Asam atau basa kuat memiliki harga  Ka (Kb untuk basa) yang sangat besar dan biasanya tidak dituliskan di buku ataupun dalam soal.  Sebaliknya, asam atau basa lemah memiliki harga Ka (Kb untuk basa) yang kecil atau bahkan sangat kecil.  Di buku (pada soal) harganya selalu dicantumkan atau justru yang ditanyakan.  Jadi, bila dalam soal diketahui nilai Ka atau Kb ataupun α (derajat ionisasi), berarti kemungkinan besar merupakan asam atau basa lemah.  Bila sebaliknya berarti asam atau basa kuat.

Selanjutnya agar lebih yakin, berikut perkiraan untuk mengkategorikan asam. Apakah termasuk asam kuat ataukah sebaliknya berdasarkan nilai Ka yang dimiliki.

Nilai Ka

Kategori Asam

< 10-7 asam sangat lemah
10-7 – 10-2 asam lemah
10-2 – 103 asam kuat
> 103 asam sangat kuat

Contoh beberapa asam dengan harga Ka-nya :

Jenis dan contoh asam Nilai Ka Kategori Asam
Asam kuat    
1.       HClO4 3 x 1010 Asam sangat kuat
2.       HI 1 x 109 Asam sangat kuat
3.       HCl 1 x 107 Asam sangat kuat
4.       HNO3 28 Asam kuat
5.       H2SO4 Ka1 : 1 x 103 (Ka2 : 1 x 103) Asam kuat/sangat kuat
     
Asam lemah    
6.       HF 7,2 x 10-4 Asam lemah
7.       CH3COOH 1,8 x 10-5 Asam lemah
8.       HClO 3,1 x 10-8 Asam sangat lemah
9.       HCN 4,0 x 10-10 Asam sangat lemah
     

Demikian, semoga bermanfaat.